SANKSI.ID, BATANG HARI,— Dari kawasan hutan di Desa Hajran, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batang Hari, sejumlah warga mulai menemukan cara baru untuk menyampaikan cerita, persoalan, dan suara komunitas mereka : melalui media digital.
Melalui program “Suara Digital dari Hutan”, Komunitas Anak Kampung, sebuah LSM akar rumput di Batang Hari, mendorong masyarakat di sekitar kawasan Perhutanan Sosial untuk tidak hanya menjadi pengguna media digital, tetapi juga mampu memproduksi dan menyebarkan informasi mengenai kehidupan serta persoalan yang mereka hadapi.
Program yang mendapat dukungan Tifa Foundation dan CIVICUS tersebut melibatkan delapan perwakilan kelompok Perhutanan Sosial. Kegiatan dirancang secara inklusif dengan melibatkan unsur pemuda, perempuan, dan komunitas Suku Anak Dalam (SAD).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rangkaian kegiatan diawali dengan Digital Civic Participation Bootcamp. Para peserta mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai literasi digital, digital storytelling, Mobile Journalism (MoJo), serta pemetaan digital partisipatif.
Pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas. Peserta juga diajak langsung mempraktikkan keterampilan tersebut di lapangan. Dengan menggunakan telepon seluler, mereka belajar mendokumentasikan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat, menyusun cerita, membuat video MoJo, serta mengunggah hasil karya mereka melalui media sosial.
Bagi masyarakat di tingkat tapak, kemampuan tersebut membuka ruang baru untuk menyampaikan informasi dari sudut pandang mereka sendiri. Cerita tentang hutan, pengelolaan Perhutanan Sosial, persoalan masyarakat, hingga potensi desa tidak lagi hanya menjadi informasi yang disampaikan oleh pihak luar, tetapi dapat diproduksi dan disuarakan langsung oleh masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui Forum Dialog Masyarakat dengan Pemangku Kepentingan pada 5 Oktober 2026 di Aula Desa Hajran.
Forum tersebut dihadiri oleh Camat Batin XXIV, Bapak A Kadir, bersama masyarakat dan pemangku kepentingan terkait.
Dalam forum tersebut, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil karya mereka, termasuk video MoJo dan hasil pemetaan partisipatif.
Mereka juga menyampaikan berbagai isu dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan Perhutanan Sosial di wilayah masing-masing.
Dialog tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan suara secara langsung kepada pemerintah kecamatan. Berbagai isu yang disampaikan peserta kemudian mendapat tanggapan dari Camat Batin XXIV.
Camat Batin XXIV menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai literasi digital dan membangun kepercayaan diri untuk menyampaikan aspirasi melalui media sosial secara bertanggung jawab.
Ia juga menyampaikan dukungannya agar kegiatan serupa tidak berhenti pada rangkaian kegiatan ini. Penguatan kapasitas masyarakat dalam menggunakan teknologi digital, menurutnya, perlu terus dilakukan agar masyarakat semakin mampu menyampaikan informasi dan memperjuangkan kepentingan komunitasnya.
“Suara Digital dari Hutan” pada akhirnya bukan sekadar pelatihan penggunaan teknologi. Kegiatan ini menjadi upaya membuka ruang bagi masyarakat yang selama ini berada di garis depan dalam menjaga dan mengelola wilayahnya untuk memiliki kemampuan menceritakan pengalaman mereka sendiri.
Dari hutan, suara itu kini bergerak ke ruang digital—membawa cerita masyarakat Batang Hari lebih jauh, sekaligus memperkuat keberanian mereka untuk bersuara.(Red)


















