Racun Digital : Segera Sediakan Rumah Sakit Khusus

- Redaksi

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bahren Nurdin (Akademisi UIN STS Jambi dan Pengamat Sosial)

Bahren Nurdin (Akademisi UIN STS Jambi dan Pengamat Sosial)

SANKSI.ID, OPINI,- Dulu, di kampung saya, orang-orang sering bercerita tentang racun godam. Tak ada yang benar-benar tahu bahan dasarnya, tetapi konon siapa pun yang terkena akan muntah darah, perlahan melemah, lalu mati—kadang seketika. Cerita itu hidup sebagai peringatan: bahwa racun bisa datang tanpa terlihat, namun dampaknya nyata dan mematikan.Memasuki zaman modern, kita mengenal racun yang lebih ilmiah—seperti sianida dan zat kimia lainnya. Kasus-kasus pembunuhan dengan racun bahkan menjadi berita besar. Ada korban, ada pelaku, ada proses hukum. Racun-racun ini jelas bentuknya, jelas bahayanya, dan jelas pula cara menghindarinya.

Namun hari ini, di era digital, muncul jenis ‘racun’ baru yang jauh lebih halus, nyaris tak terasa, tetapi dampaknya tidak kalah berbahaya: media sosial.

Racun digital ini tidak membunuh secara instan. Ia bekerja perlahan, merasuk ke dalam kebiasaan, membentuk ketergantungan, dan pada akhirnya melumpuhkan produktivitas serta kualitas hidup. Siapa saja bisa menjadi korban—anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi sekalipun. Dari rakyat biasa hingga pejabat, dari santri hingga ulama, tak ada yang benar-benar kebal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gejalanya tampak jelas. Orang yang “teracuni” menjadi lalai, kecanduan, dan kehilangan fokus terhadap tanggung jawabnya. Anak-anak kehilangan minat belajar, lebih tertarik pada layar daripada buku. Aktivitas motorik menurun drastis. Mereka tidak lagi bermain, bergerak, atau berinteraksi secara sehat.

Lebih jauh lagi, konsumsi konten digital—terutama video pendek—telah membentuk pola pikir instan. Otak terbiasa dengan rangsangan cepat, sehingga sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Ini bukan sekadar perubahan kebiasaan, tetapi perubahan cara berpikir.

Dampak psikologisnya pun tidak kalah serius. Media sosial seringkali menjadi ajang perbandingan hidup. Orang melihat kesuksesan orang lain tanpa memahami proses di baliknya. Akibatnya muncul rasa tidak cukup, stres, iri, bahkan dengki. Penyakit hati ini menyebar tanpa disadari, menggerogoti kesehatan mental masyarakat.

Bayangkan jika kondisi ini terus berlanjut. Negeri ini bisa dipenuhi oleh generasi yang “keracunan” gawai dan media sosial. Hari-hari mereka dihabiskan untuk menggulir layar tanpa tujuan. Produktivitas menurun, kreativitas melemah, dan daya saing bangsa ikut tergerus.

Lebih mengkhawatirkan lagi, dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor kehidupan. Aparatur negara yang kecanduan media sosial bisa kehilangan fokus dalam bekerja. Ibu rumah tangga lalai mengurus keluarga. Para ayah kehilangan semangat mencari nafkah. Siswa berhenti belajar, guru dan dosen kehilangan dedikasi mengajar.

Jika ini terjadi secara masif, maka bukan hanya individu yang rusak, tetapi sistem sosial secara keseluruhan.

Inilah racun digital—tidak berwarna, tidak berbau, tetapi perlahan mematikan. Ia tidak menyerang tubuh secara fisik, melainkan pikiran, kebiasaan, dan karakter manusia.

Maka, kesadaran menjadi kunci. Kita tidak bisa sepenuhnya menghindari teknologi, tetapi kita harus mampu mengendalikannya. Menggunakan media sosial secara bijak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Namun, bagi mereka yang sudah terlanjur “terminum” racun ini, pendekatan personal saja tidak cukup. Negara harus hadir secara serius. Pemerintah perlu mendirikan pusat-pusat pemulihan—semacam “rumah sakit digital”—yang secara khusus menangani kecanduan gawai dan media sosial. Di sana tersedia tenaga profesional, mulai dari dokter, psikolog, hingga konselor yang memahami dampak neurologis dan mental dari paparan digital berlebihan.

Selain itu, perlu ada pengembangan “obat” dalam dua bentuk: kimia dan mental. Obat kimia dapat berupa terapi medis untuk kasus kecanduan berat yang telah memengaruhi fungsi otak. Sementara itu, “obat mental” berupa terapi perilaku, pendidikan literasi digital, serta pembentukan ulang kebiasaan hidup sehat. Ini bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan nyata yang harus segera diwujudkan.

Racun digital tidak boleh lagi dianggap remeh. Tingkat bahayanya kini sudah setara dengan narkoba—bahkan dalam beberapa aspek bisa lebih luas dampaknya karena menyerang semua lapisan masyarakat tanpa kecuali. Jika negara lambat bertindak, korban akan terus berjatuhan secara perlahan. Dan pada akhirnya, bukan hanya individu yang runtuh, tetapi juga masa depan bangsa yang terancam bangkrut.

Akomentar Anda Terkait Artikel Ini?

Berita Terkait

Turnamen Antar Pers Se-Provinsi Jambi Dijadwakan Bulan Oktober, Pedagang di Alun – alun Muara Bulian Sumringah
Siap Dukung Kegiatan Hulu Migas, Kapolda Jambi Kunjungi FSO 115
PEP Jambi dan Mitra Kerja Perkuat Sinergi Demi Keberlanjutan Operasi dan Target Produksi Migas
Dorong UMKM Naik Kelas, SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd Fasilitasi Alat dan Bimtek Membatik Kader PKK Mengupeh
Polemik RKAS di SDN 187/I Kelurahan Teratai, Pengawas Sekolah : No comen Itu Bukan Urusan Saya, Itu Urusan Inspektorat
Lalai Pajang RKAS Terbaru, SDN 187/I Teratai Diduga Tutupi Penggunaan Dana BOS
Diduga Kepsek Berlindung di Balik ‘Hak Veto’, Guru Sertifikasi di Batang Hari Terancam Kehilangan Jam Mengajar
Monetisasi Gas Sengeti Dorong Ketahanan Energi dan Investasi Baru di Jambi

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla, Yonif 142/KJ dan BPBD Kota Jambi Gelar Latihan Bersama

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:33 WIB

Pemerintah Perkuat Ekonomi dan Kesehatan Desa, BPOM Kawal Produk Koperasi Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:26 WIB

Kopdes Aksi Nyata Pemerintah Jawab Persoalan Sosial Ekonomi Masyarakat

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:21 WIB

Kopdes Merah Putih Bukan Pesaing Warung Rakyat, Justru Perkuat Ekonomi Desa

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:46 WIB

10 Tim Pers Siap Berlaga di Ajang Silaturahmi Fun Football Batang Hari

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Kabut Asap Tak Surutkan Jajaran Polres Batang Hari Berikan Pelayanan Kepada Masyarakat

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:33 WIB

Ketua GOW Nuraini Zubir Pimpin Pertemuan Rutin, Ini Yang Dibahas

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:39 WIB

Pemkab Batang Hari Silaturahmi dan Koordinasi Dandim 0415/Jambi, Ini Yang Bahas 

Berita Terbaru